Archive for Uncategorized

TOKOH PER FILMAN INDONESIA JUGA GA MAU KETINGGALAN UNTUK MENGADOPSI NASKAH TEATER KARYAWILLIAM SHAKESPEARES KE LAYAR LEBAR

ROMEO AND JULIET FERSI INDONESIA


Film Romeo and Juliet garapan Andibachtiar Yusuf yang satu ini beda dengan film-film adaptasi klasik William Shakespeare lainnya. Ketika film-film sebelumnya berkisah soal peseteruan keluarga Capulet dan Monteque, film ini menampilkan kisah cinta dua suporter dari tim sepakbola yang berbeda. Yaitu antara Rangga (Edo Borne) dari the Jak dan Dessy (Sissy Priscilia) yang mati dan hidupnya akan terus mendukung Persib.

Begitu menonton ‘Romeo and Juliet‘ Anda langsung disuguhkan adegan kejar-kejaran antara suporter Persija dan Persib. Bentrokan pun tidak dapat dihindarkan. Di situlah, Rangga langsung jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Dessy.

Suatu saat Rangga yang keseharian menjual pernak-pernik the Jak mengunjungi Bandung untuk mencari kostum bola yang murah. Secara tidak sengaja ia pun bertemu dengan Dessy gadis idamannya. Dari situ hubungan mereka pun berlanjut.

Sayangnya, hubungan cinta terlarang Rangga-Dessy mulai tercium oleh suporter lain. Rangga mulai dicaci oleh Jak Mania lainnya, begitu juga Dessy. Dessy dilarang untuk menemui Rangga lagi oleh sang kakak (Alex Komang). Hingga akhirnya konflik demi konflik hadir di antara mereka.

Meskipun sudah berulang-ulang kali diadaptasi ke layar lebar, kisah ‘Romeo and Juliet’ tidak pernah membosankan. Apalagi jika temanya dimodifikasi menjadi lebih segar. Dengan menyaksikan ‘Romeo and Juliet’ ini, Anda tidak hanya disuguhan dengan sebuah drama percintaan. Tapi Anda akan diajak melihat lebih dekat apa yang ada di pikiran para suporter hingga mereka mati-matian membela klub sepakbolanya. Hal yang mungkin Anda anggap sepele sebelumnya.

Berdurasi 104 menit, alur ‘Romeo and Juliet’ terasa lambat awalnya. Namun di pertengahan film, alurnya membuat para penonton semakin penasaran untuk menebak akhir filmnya. Jika Anda sudah punya pengalaman menonton atau membaca karya William Shakespeare itu, Anda pasti sedikit terkaget dengan ending film ini.

Nuansa lokal sangat kental pun di film ini. Dialog-dialog yang digunakan adalah bahasa Sunda sehari-hari dan bahasa anak muda Jakarta yang lumayan kasar. Kata “anjing”, “tai” dan “Ngensbrai” (bersetubuh) tumpah ruah di dialognya.

Salah satu yang unik dari film ini yaitu gradasi warnanya. Untuk menguatkan aksen Persib, Yusuf memberikan gradasi kebiruan, dan ketika adegan bersetting Jakarta ia menampilkan gradasi oranye khas Persija.

Di jajaran aktor dan aktrisnya, Ramon T Yungka yang patut mendapat sorotan. Berperan sebagai Agus, akting Ramon yang ciamik seperti menenggelamkan Edo Borne, sang bintang utama. Aktingnya di film ini patut mendapat dua acungan jempol. Bahkan bintang ‘Ekskul‘ itu harus menaikkan berat badannya 10 kilogram supaya tampak tambun.

William Shakespeare

Dramawan dan penyair besar Inggris William Shakespeare dilahirkan tahun 1564 di Stratford-on-Avon, Inggris. Tampaknya dia peroleh pendidikan dasar yang lumayan tetapi tak sampai injak perguruan tinggi. Shakespeare kawin di umur delapan belas (istrinya umur dua puluh enam), beranak tiga sebelum umurnya mencapai dua puluh satu.

Beberapa tahun kemudian, dia pergi ke London, menjadi anak panggung dan penulis drama. Tatkala usianya mencapai tiga puluh Shakespeare sudah menunjukkan keberhasilan. Dan tatkala umurnya menginjak tiga puluh empat, dia sudah jadi orang berduit dan dianggap penulis drama Inggris terkemuka. Sepuluh tahun kemudian, dia sudah membuahkan karya-karya besar seperti Julius Caesar, Hamlet, Othello, Macbeth dan King Lear.

Dalam jangka waktu dua puluh tahun yang punya makna khusus Shakespeare tinggal di London itu, istrinya tetap tinggal di Stratford. Shakespeare mati di tahun 1616 pada sekitar ulangtahunnya yang ke-52. Dia tidak punya keturunan yang hidup.

Ada 38 drama terkenal ciptaan Shakespeare termasuk beberapa drama kecil yang mungkin digarap bersama orang lain. Selain itu, dia menulis sejumlah 154 sonata dan 3 atau 4 sajak-sajak panjang.

Ditilik dari kegeniusan Shakespeare, hasilnya dan kemasyhurannya yang memang sudah sewajarnya, mungkin timbul kesan aneh apa sebab namanya tidak ditempatkan di urutan lebih atas dalam daftar buku ini. Saya menempatkan Shakespeare begitu rendah bukan lantaran saya tidak menghargai daya hasil seninya, tetapi semata-mata karena saya yakin bahwa pada umumnya kesusasteraan atau tokoh-tokoh seniman tidaklah punya pengaruh besar dalam sejarah.

Kegiatan pemuka-pemuka agama, ilmuwan, politikus, para penyelidik, filosof, para pecipta lebih sering berpengaruh terhadap pelbagai bidang kehidupan manusia. Misalnya, kemajuan ilmu punya pengaruh besar terhadap peri kehidupan ekonomi dan politik, dan juga berpengaruh terhadap kepercayaan agama, sifat filosofis dan perkembangan seni.

Tetapi, seorang pelukis masyhur, kendati dia punya pengaruh besar terhadap pelukis lain, tidaklah punya pengaruh apa-apa terhadap perkembangan musik dan kesusasteraan, konon pula terhadap ilmu pengetahuan, atau bidang penyelidikan. Hal serupa berlaku pula untuk bidang-bidang sajak, drama dan musik. Walhasil, secara umum bisalah dibilang, pengaruh seniman itu cuma menyentuh bidang seni, bahkan terbatas pada bagian-bagian seni tertentu. Oleh sebab itu, tak ada tokoh kesusasteraan, musik atau seni lain yang diletakkan di atas urutan No. 30, malahan hanya sedikit sekali yang ditampilkan dalam buku ini.

Kalau demikian halnya, mengapa masih ada juga seniman yang termasuk daftar? Jawabnya ialah, kesenangan terhadap seni merupakan bagian langsung (meski tidak selalu merupakan bagian pokok) dalam kehidupan individu. Dengan kata lain, seseorang bisa menyediakan sebagian dari waktunya mendengarkan musik, sebagian membaca buku, sebagian memandang lukisan dan sebagainya. Bahkan apabila waktu yang kita habiskan untuk mendengarkan musik tak punya pengaruh terhadap kegiatan kita

BERAWAL DARI NASKAH TEATER HINGGA MENJADI SUTRADARA BESAR” Arifin Chairin Noer”


Profil Sutradara Teater Yang juga Sutradara film

Arifin Chairin Noer , lebih dikenal sebagai Arifin C. Noer, adalah sutradara teater dan film asal Indonesia yang beberapa kali memenangkan Piala Citra untuk penghargaan film terbaik dan penulis skenario terbaik.

Salah satu film Arifin yang paling kontroversial adalah Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984). Film ini diwajibkan oleh pemerintah Orde Baru untuk diputar di semua stasiun televisi setiap tahun pada tanggal 30 September untuk memperingati insiden Gerakan 30 September pada tahun 1965. Peraturan ini kemudian dihapus pada tahun 1997.

Selain itu Arifin jugalah yang pertama mengenali bakat aktris Joice Erna dan mengangkatnya ke jenjang popularitas dengan film Suci Sang Primadona di tahun 1977.

Latar belakang teaternya yang kuat ia raih dengan pertama bergabung dengan kelompok bentukan Rendra dan juga kemudian menulis dan menyutradari lakon-lakonnya sendiri seperti Kapai Kapai, Tengul, Madekur dan Tarkeni, Umang-Umang dan Sandek Pemuda Pekerja.

Istrinya adalah aktris Jajang C. Noer.Darinya Arifin mendapat dua anak : Nitta Nazyra dan Marah Laut

Di antara delapan bersaudara, Arifin mengaku berparas paling jelek.
Anak kedua Mohammad Adnan, penjual sate keturunan kiai, ini
menggeluti kegiatan puisi dan teater sejak di SMP. Bersekolah di
Yogyakarta, ia bergabung dengan Lingkaran Drama Rendra, dan menjadi
anggota Himpunan Sastrawan Surakarta.
Sajak pertamanya, Langgar Purwodiningratan, mengenai masjid tempat ia
bertafakur. Naskahnya Lampu Neon, atau Nenek Tercinta, memenangkan
sayembara Teater Muslim, 1967. Ia kemudian bergabung dengan kelompok
teater tersebut.
Setahun kemudian, selesai kuliah di Fakultas Sosial Politik
Universitas Cokroaminoto, ia pindah ke Jakarta. ”Dengan keyakinan
ana awan ana pangan,” katanya. Ia lalu mendirikan Teater Kecil, dan
berhasil mementaskan cerita, dongeng, yang seperti bernyanyi. Tentang
orang-orang yang terempas, pencopet, pelacur, orang-orang kolong, dan
sebagainya. Mencuatkan protes sosial yang transendental, tetapi
kocak, dan religius.
Teaternya akrab dengan publik. Ia memasukkan unsur-unsur lenong,
stambul, boneka (marionet), wayang kulit maupun golek, dan melodi
pesisir. ”Arifin adalah pembela kaum miskin,” komentar Penyair
Taufiq Ismail, seusai pementasan Interogasi, 1984. Ia sendiri santai
berkata, ”Saya hidup di dunia kelam, dekat dengan kejelataan, dan
musik dangdut.”
Lakon-lakonnya antara lain: Kapai-Kapai (1970), Tengul (1973),
Madekur dan Tarkeni (1974), Umang-Umang (1976), dan Sandek Pemuda
Pekerja (1979). Lakon Kapai-Kapai dimainkan orang dalam bahasa
Inggris dan Belanda di AS, Belgia, dan Australia. Pada 1984, ia
menulis lakon Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi.
Lewat film Pemberang, ia dinyatakan sebagai penulis skenario terbaik
di Festival Film Asia 1972, dan mendapat piala The Golden Harvest.
Pada tahun itu, ”Peransi, pembuat film dokumenter, memperkenalkan
film sebagai media ekspresi kepada saya,” tuturnya. Arifin kembali
tampil sebagai penulis skenario terbaik untuk Rio Anakku, dan Melawan
Badai dalam Festival Film Indonesia 1978. Ia meraih Piala Citra.
Mengaku otodidak di bidang sinematografi, ia mulai menyentuh kamera
ketika Wim Umboh membuat film Kugapai Cintamu, 1976. ”Banyak
menyutradarai teater, ternyata, merupakan dasar yang sangat perlu
untuk film,” ceritanya.
Penulis skenario dan sutradara, Arifin sering disebut sebagai
sutradara termahal. Masih menghuni rumah kontrakan di Jalan Rawa
Raya, Pisangan, Jakarta Timur, kendaraannya Mitsubishi Lancer
berwarna putih. ”Kasihan terhadap diri saya sendiri,”
ujarnya. ”Orang sering menuding saya orang kaya.”
Film perdananya Suci Sang Primadona (1977), melahirkan pendatang
baru: Joice Erna, yang memenangkan Piala Citra sebagai Aktris Terbaik
FFI 1978. Film ini, menurut Volker Schloendorf — sutradara Die
Blechtrommel, pemenang Palme d’oro Festival Cannes 1979 — dari
Jerman, ”Menampilkan sosok wajah rakyat Indonesia tanpa bedak.
Arifin cermat mengamati tempatnya berpijak.”
Menyusul film-filmnya: Petualang-Petualang, Harmonikaku, dan Yuyun,
Pasien Rumah Sakit Jiwa, juga Matahari-Matahari. Belakangan, Serangan
Fajar dinilai FFI 1982 sebagai Film Terbaik. Sedang Pengkhianatan G-
30-S/PKI, filmnya terlaris yang dijuluki superinfra box-office. Lewat

film ini lagi-lagi Arifin meraih Piala Citra sebagai Penulis Skenario
Terbaik, 1985.
Dengan Nurul Aini, istrinya pertama, Arifin dikaruniai dua anak

CONTOH DRAMA TEATER

BADAI SEPANJANG MALAM
Karya MAX ARIFIN

Para Pelaku:
1.Jamil, seorang guru SD di Klaulan,Lombok Selatan,berumur 24 tahun
2.Saenah,istri Jamil berusia 23 tahun
3.Kepala Desa,suara pada flashback

Setting :
Ruangan depan sebuah rumah desa pada malam hari.Di dinding ada lampu
minyak menyala.Ada sebuah meja tulis tua. Diatasnya ada beberapa buku
besar.Kursi tamu dari rotan sudah agak tua.Dekat dinding ada balai balai .Sebuah radio transistor juga nampak di atas meja.Suara :
Suara jangkerik.suara burung malam.gonggongan anjing di kejauhan.Suara Adzan subuh.

Musik:
Sayup sayup terdengar lagu Asmaradahana,lewat suara sendu seruling

Note:
Kedua suami istri memperlihatkan pola kehidupan kota.dengan kata lain,mereka berdua memang berasal dari kota.tampak pada cara dan bahan pakaian yang mereka kenakan pada malam hari itu.mereka juga memperlihatkan sebagai orang yang baik baik.hanya idelisme yang menyala nyala yang menyebabkan mereka berada di desa terpencil itu.

01.Begitu layar tersingkap, nampak jamil sedang asyik membaca.Kaki nya ditelusurkan ke atas kursi di depannya.Sekali sekali ia memijit mijit keningnya dan membaca lagi.Kemudian ia mengangkat mukanya,memandang jauh ke depan,merenung dan kembali lagi pada bacaannya.Di kejauhan terdengar salak anjing melengking sedih.Jangkerik juga menghiasi suasana malam itu. Di kejauhan terdengar seruling pilu membawakan Asmaradahana.
Jamil menyambar rokok di atas meja dan menyulutnya.Asap berekepul ke atas.Pada saat itu istrinya muncul dari balik pintu kamar.

02.Saenah :
Kau belum tidur juga?kukira sudah larut malam.Beristirahatlah,besok kan hari kerja?

03.Jamil:
Sebentar,Saenah.Seluruh tubuhku memang sudah lelah,tapi pikiranku masih saja mengambang ke sana kemari.Biasa, kan aku begini malam malam.

04.saenah:
Baiklah.tapi apa boleh akuketahui apa yang kaupikirkan malam ini?

05.jamil:
Semuanya,semua apa yang kupikirkan selama ini sudah kurekam dalam buku harianku,Saenah.Perjalanan hidup seorang guru muda-yang ditempatkan di suatu desa terpencil-seperti Klulan ini kini merupakan lembaran lembaran terbuka bagi semua orang.

06.Saenah:
Kenapa kini baru kau beritahukan hal itu padaku?Kau seakan akan menyimpan suatu rahasia.Atau memang rahasia?

07.Jamil:
Sama sekali bukan rahasia ,sayangku! Malam malam di tempat terpencil seakan memanggil aku untuk diajak merenungkan sesuatu.Dan jika aku tak bisa memenuhi ajakannya aku akan mengalami semacam frustasi.Memang pernah sekali,suatu malam yang mencekam,ketika aku sudah tidur dengan nyenyak,aku tiba pada suatu persimpangan jalan di mana aku tidak boleh memilih.Pasrah saja.Apa yang bisa kaulakukan di tempat yang sesunyi ini?[Dia menyambar buku hariannya yang terletak di atas meja dan membalik balikkannya] Coba kaubaca catatanku tertanggal…[sambil masih membolak balik]..ini tanggal 2 oktober 1977.

08.Saenah:
[Membaca] “Sudah setahun aku bertugas di Klaulan.Suatu tempat yang terpacak tegak seperti karang di tengah lautan,sejak desa ini tertera dalam peta bumi.Dari jauh dia angker,tidak bersahabat:panas dan debu melecut tubuh.Ia kering kerontang,gersang.Apakah aku akan menjadi bagian dari alam yang tidak bersahabat ini?Menjadi penonton yang diombangkan ambingkan oleh…barang tontonannya.Setahun telah lewat dan selama itu manusia ditelan oleh alam”.[Pause dan Saenah mengeluh;memandang sesaat pada Jamil sebelum membaca lagi].”Aku belum menemukan kejantanan di sini.Orang orang seperti sulit berbicara tentang hubungan dirinya dengan alam.Sampai di mana kebisuan ini bisa diderita?Dan apakah akan diteruskan oleh generasi generasi yang setiap pagi kuhadapai?Apakah di sini tidak dapat dikatakan adanya kekejaman.”[Saenah berhenti membaca dan langsung menatap pada Jamil]

09.Jamil:
Kenapa kau berhenti?jangan tatap aku seperti itu,Saenah.

10.Saenah:
Apakah tulisan ini tidak keterlaluan?Bisakah ditemukan kejujuran di dalamnya?

11.Jamil:
Kejujuran kupertaruhkan di dalamnya,Saenah.Aku bisa mengatakan,kita kadang-kadang dihinggapi oleh sikap sikap munafik dalam suatu pergaulan hidup.Ada ikatan ikatan yang mengharuskan kita berkata “Ya!” terhadap apa pun,sekalipun dalam hati kecil kita berkata”Tidak”.Kejujuranku mendorong aku berkata,”Tidak”,karena aku melatih diri menjadi orang yang setia kepada nuraninya.Aku juga tahu, masa kini yang dicari adalah orang orang yang mau berkata”Ya”.Yang berkata “Tidak” akan disisihkan.[Pause] Memang sulit,Saenah.Tapi itulah hidup yang sebenarnya terjadi.Kecuali kalau kita mau melihat hidup ini indah di luar,bobrok di dalam.Itulah masalahnya.[Pause.Suasana itu menjadi hening sekali.Di kejauhan terdengar salak anjing berkepanjangan]

12.Saenah:
Aku tidak berpikir sampai ke sana. Pikiranku sederhana saja.kau masih ingat tentunya,ketika kita pertama kali tiba di sini,ya setahun yang lalu.Tekadmu untuk berdiri di depan kelas,mengajar generasi muda itu agar menjadi pandai.Idealismemu menyala nyala.Waktu itu kita disambut oleh Kepala Desa dengan pidato selamat datangnya.[S aenah lari masuk.Jamil terkejut.tetapi sekejap mata Saenah muncul sambil membawa tape recorder!] Ini putarlah tape ini.Kaurekam peristiwa itu.[Saenah memutar tape itu,kemudian terdengarlah suara Kepala Desa]’…Kami ucapkan selamat datang kepada Saudara Jamil dan istri.Inilah tempat kami.Kami harap saudara betah menjadi guru di sini.Untuk tempat saudara berlindung dari panas dan angin,kami telah menyediakan pondok yang barangkali tidak terlalu baik bagi saudara.Dan apabila Anda memandang bangunan SD yang cuma tiga kelas itu.Dindingnya telah robek,daun pintunya telah copot,lemari lemari sudah reyot,lonceng sekolah bekas pacul tua yang telah tak terpakai lagi.Semunya,semuanya menjadi tantangan bagi kita bersama.Selain itu,kami perkenalkan dua orang guru lainnya yang sudah lima tahun bekerja di sini.Yang ini adalah Saudara Sahli,sedang yang berkaca mata itu adalah Saudara Hasan.Kedatangan Saudara ini akan memperkuat tekad kami untuk membina generasi muda di sini.Harapan seperti ini menjadi harapan Saudara Sahli dan Saudara Hasan tentunya.”[Saenah mematikan tape.Pause,agak lama.Jamil menunduk,sedang Saenah memandang pada Jamil.Pelan pelan Jamil mengangkat mukanya.Mereka berpandangan]

13.Saenah:
Semua bicara baik-baik saja waktu itu dan semuanya berjalan wajar.

14.Jamil:
Apakah ada yang tidak wajar pada diriku sekarang ini ?

15.Saenah:
Kini aku yang bertanya:jujurkah pada nuranimu sendiri?Penilaian terakhir ada pada hatimu.dan mampukah kau membuat semacam pengadilan yang tidak memihak kepada nuranimu sendiri?Karena bukan mustahil sikap keras kepala yang berdiri di belakang semuanya itu.Terus terang dari hari ke hari kita seperti terdesak dalam masyarakat yang kecil ini.

16.Jamil:
Apakah masih harus kukatakan bahwa aku telah berusaha berbuat jujur dalam semua tindakanku?Kau menyalahkan aku karena aku terlalu banyak bilang”Tidak” dalam setiap dialog dengan sekitarku.Tapi itulah hatiku yang ikhlas untuk ikut gerak langkah masyarakatku.Tidak,Saenah.Mental masyarakat seperti katamu itu tidak terbatas di desa saja, tapi juga berada di kota

17.Saenah:
Kau tidak memahami masyarakatmu.

18.Jamil:
Masyarakat itulah yang tidak memahami aku.

19.saenah:
siapa yang salah dalam hal ini.

20.Jamil:
Masyarakat.

21.Saenah:
Yang menang ?

22.Jamil:
Aku

23.Saenah:
Lalu ?

24.Jamil:
Aku mau pindah dari sini.[Pause. Lama sekali mereka berpandangan.].

25.Saenah:
[Dengan suara rendah]Aku kira itu bukan suatu penyelesaian.

26.Jamil:
[Keras] Sementara memang itulah penyelesaiannya.

27.Saenah:
[Keras]Tidak! Mesti ada sesuatu yang hilang antara kau dengan masyarakatmu.Selama ini kau membanggakan dirimu sebagai seorang idealis.Idealis sejati,malah.Apalah arti kata itu bila kau sendiri tidak bisa dan tidak mampu bergaul akrab dengan masyarakatmu.[Pause]

[Lemah diucapkan]Aku terkenang masa itu,ketika kau membujuk aku agar aku mu datang kemari[Flashback dengan mengubah warn cahaya pelan pelan.Memakai potentiometer.Bisa hijau muda atau warna lainnya yang agak kontras dengan warna semula.Musik sendu mengalun]

28.Jamil:
Aku mau hidup jauh dari kebisingan,Saenah.Aku tertarik dengan kehidupan sunyi di desa,dengan penduduknya yang polos dan sederhana.Di sana aku ingin melihat manusia seutuhnya.Manusia yang belum dipoles sikap sikap munafik dan pulasan belaka.Aku harap kau menyambut keinginanku ini dengan gembira,dan kita bersama sama kesana.Di sana tenagaku lebih diperlukan dari pada di kota.Dan tentu banyak yang dapat aku lakukan.

29.Saenah:
Sudah kaupikirkan baik baik? Perjuangan di sana berarti di luar jangkauan perhatian.

30.Jamil:
Aku bukan orang yang membutuhkan perhatian dan publikasi.Kepergianku ke sana bukan dengan harapan untuk menjadi guru teladan.Coba bayangkan,siapa pejabat yang bisa memikirkan kesulitan seorang guru yang bertugas di Sembalun,umpamanya?Betul mereka menerima gaji tiap bulan.Tapi dari hari ke hari dicekam kesunyian,dengan senyum secercah terbayang di bibirnya bila menghadapi anak bangsanya.dengan alat alat serba kurang mungkin kehabisan kapur,namun hatinya tetap di sana.Aku bukan orang yang membutuhkan publikasi,tapi ukuran ukuran dan nilai nilai seorang guru di desa perlu direnungkan kembali.Ini bukan ilusi atau igauan di malam sepi,Saenah.Sedang teman teman di kota mempunyai kesempatan untuk hal hal yang sebaliknya dari kita ini.Itulah yang mendorong aku,mendorong hatiku untuk melamar bertugas di desa ini.

31.Saenah:
Baiklah, Sayang.Ketika aku melangkahkan kaki memasuki gerbang perkawinan kita,aku sudah tahu macam suami yang kupilih itu.Aku bersedia mendampingimu.Aku tahu,apa tugas utamaku disamping sebagai seorang ibu rumah tangga.Yaitu menghayati tugas suami dan menjadi pendorong utama karirnya.Aku bersedia meninggalkan kota yang ramai dan aku sudah siap mental menghadapi kesunyian dan kesepian macam apa pun.Kau tak perlu sangsi.[Pause senbentar.Pelan pelan lampu kembali pada cahaya semula]

32.Saenah:
Kini aku menjadi sangsi terhadap dirimu.Mana idealisme yang dulu itu? Tengoklah ke kanan.apakah jejeran buku-buku itu belum bisa memberikan jawaban pada keadaan yang kauhadapi sekarang?Di sana ada jawaban yang diberikan oleh Leon Iris,Erich Fromm,Emerson atau Alvin Toffler.Ya,malam malam aku sering melihat kau membuka-buka buku-buku Erich Fromm yang berjudul The Sane Society atau Future Shock nya Alvin Toffler itu.

33.Jamil:
Apa yang kau kauketahui tentang Eric Fromm dengan bukunya itu? Atau Toffler?

34.Saenah:
Tidak banyak.Tapi yang kuketahui ada orang-orang yang mencari kekuatan pada buku-bukunya.Dan dia tidak akan mundur walau kehidupan pahit macam apa pun dosodorkan kepadanya.karena ia mempunyaai integritas diri lebih tinggi dri orang-orang yng menyebabkan kepahitan hidupnya.apakah kau menyerah dalam hal ini?Ketika kau melangkahkan kakimu memasuki desa ini terlalu bnyak yang akan kausumbngkan padanya,ini harsus kauakui.Tapi kini-akuilah-kau menganggap desa ini terlalu banyak meminta dirimu.Inilah resiko hidup di desa.Seluruh aspek kehidupan kita disorot.Smpai sampai soal pribadi kita dijadikan ukuran mampu tidaknya kita bertugas.Dan aku tahu hal itu.Karena aku kenal kau.[Suasana menjadi hening sekali.Pause]
Aku sama sekali tak menyalahkan kau.malah dim diam menghargai kau, dan hal itu sudah sepantasnya.Aku tidak ingin kau tenggelam begitu saja dalam suatu msyarakat atau dalam suatu sistem yang jelek namun telah membudaya dalam masyarakat itu.Di mana pun kau berda.juga sekiranya kau bekerja di kantor.Kau pernah dengan penuh semangat menceritakan bagaimana novel karya Leon Uris yang berjudul QB VII.Di sana Uris menulis,katamu bahwa seorang manusia harus sadar kemanusiaannya dan berdiri tegak antara batas kegilaan lingkungannya dan kekuatan moral yang seharusnya menjadi pendukungnya.Betapapun kecil kekuatan itu.Di sanalah manusia itu diuji.Ini bukan kuliah.Aku tak menyetujui bila kau bicara soal kalah menang dalam hal ini.Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.Dialog yang masih kurang.

34.Jamil:
Aku mungkin mulai menyadari apa benda yang hilang yang kaukatakan tadi.generasi sekarang mengalami kesulitan dalam masalah hubungan.Hubungan antar sesama manusia.Mereka mengalami apa yang disebut kegaguan intelektual.kita makin cemas,kita seakan akan mengalami kemiskinan artikulasi.Disementara sekolah di banyak sekolah malah,mengarang pun bukanlah menjadi pelajaran utama lagi,sementara makin banyak gagasan yang harus diberitahukan ke segala sudut.Pertukaran pikiran makin dibutuhkan.

35.Saenah:
Ya,seperti pertukaran pikiran malam ini.Kita harus yakin akan manfaat pertukaran .Ada gejala dalam masyarakat di mana orang kuat dan berkuasa segan bertukar pikiran.Untuk apa ,kata mereka.Kan aku berkuasa.

36.Jamil;
Padahal nasib suatu masyarakat tergantung pada hal-hal itu.Dan kita jangan melupakan kenyataan bahwa masyarakat itu bukan saja berada dalam konflik dengan orang-orang yang mempunyai sikap yang tidak sosial tetapi sering pula konflik dengan sifat sifat manusia yang paling dibutuhkan,yang justru ditekan oleh masyarakat itu sendiri.

37.Saenah:
Itu kan Erich Fromm yang bilang.

38.Jamil:
Memang aku mengutip dia.[Dari kejauhan terdengar suara bedug subuh kemudian adzan]

39.Saenah:
Aduh,kiranya sudah subuh.Pagi ini anak-anak menunggumu,generasi muda yang sangat membutuhkan kau.

40.Jamil:
Aku akan tetap berada di desa ini,sayangku.

41.Saenah:
Aku akan tetap bersamamu.Yakinlah.[Jamil menuntun istrinya ke kamar tidur.Musik melengking keras lalu pelan pelan,sendu dan akhirnya berhenti].

KUMPULAN NASKAH-NASKAH DRAMA TEATER DALAM NEGRI YANG TIDAK KALAH BAGUSNYA APA BILA DI FILM KAN

AHMAD HIDAYAT, Naskah: Melawan Raksasa
ACHDIAT K. MIHARDJA, Naskah: Keluarga S. Sastro
AKHUDIAT, Naskah: Jaka Tarub, Grafito
ARIFIN C. NOOR, Naskah: Pada Suatu Hari, Pelajaran Cinta, Kisah Cinta dan Lain-lain
ARSWENDO ATMOWILOTO, Naskah: Sang Pemahat
ADLIN AFFANDY, Naskah: Gadis Modern
AM. TRAJUTISNA, Naskah: Pilihan Lurah
AHMAD BAKRI, Naskah: Rajapati
AZUZAN JG. Naskah: Mat Sampeng Jago Palmerah
ARY MHS, Naskah: Otak Dalam Botol
BM SYAMSUDIN, Naskah: Warung Bulan
D. SURADJI, Kump. naskah: Dua Drama dan Dua Cerita Pendek
DANARTO, Naskah: Obrok Owok-owok Ebrek Ewek-ewek
EMHA AINUN NADJIB, Naskah: Pak Kanjeng, Perahu Retak
HARDJONO W, Naskah: Rizal Pulanglah
HANDUNG KUS SYUDARSANA, Naskah; Pangeran Mangkubumi Winisuda
IKRANEGARA, Trilogi Naskah: Topeng, Gusti, Rang Gni
KIRDJOMULJO, Naskah; Penggali Intan
KOTOT SUKARDI, Naskah; Bende Mataram
LUTHFI RACHMAN, Naskah; Calonarang
M NIZAR & MASBUCHIN, Naskah; Sendja Telah Temaram
MOTINGGO BOESYE, Naskah; Malam Jahanam, Nyonya dan Nyonya, Barabah
MULTATULI, Naskah; Saidjah dan Adinda
MUH. ASNAM, Naskah; Ibu
NANO RIANTIARNO, Naskah; Opera Primadona, Malam Semakin Kelam
NASYAH DJAMIN, Naskah; Titik-titik Hitam
NOORCA M MASSARDI, Naskah; Perjalanan Kehilangan, Mencari Taman, Tin-Ton
NUR ISWANTARA, Antologi Naskah: Bunga di Atas Bintang
PUTU WIJAYA, Naskah; Orang-orang Malam, Anu, Los, Front, Dag Dig Dug, Dor
RAHMAN ARGE, Naskah; Sang Mandor
RATNA SARUMPAET, Naskah; Marsinah Nyanyian Dari Bawah Tanah
RD. LINGGA WISJNU MS, Naskah; Dua Keluarga
SAINI KM, Naskah; Amat Jaga, Dunia Orang-orang Mati, Ben Go Tun, Panji Koming, Kerajaan Burung, Egon, Serikat Kaca Mata Hitam, Ken Arok
SH MINTARDJA, Naskah; Anusopati
SOEPRAPTO BUDISANTOSO, Naskah; Merdeka
UTUY TATANG SONTANI, Naskah; Suling, Bunga Rumah Makan, Sang Kuriang
VREDI KASTAM MARTA, Naskah; Syekh Siti Jenar
WHANI DARMAWAN, Naskah; Luka-luka Yang terluka
WS RENDRA, Naskah; Qassidah Barzanzi, Panembahan reso
WISRAN HADI, Naskah; Anggung Nan Tongga, Kemerdekaan, Cinduo Mato, Perguruan
YUDISTIRA ADHINUGRAHA, Naskah; Ke
ZULKIPLI LUBIS, Naskah; Percakapan Ilalang

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.