BERAWAL DARI NASKAH TEATER HINGGA MENJADI SUTRADARA BESAR” Arifin Chairin Noer”


Profil Sutradara Teater Yang juga Sutradara film

Arifin Chairin Noer , lebih dikenal sebagai Arifin C. Noer, adalah sutradara teater dan film asal Indonesia yang beberapa kali memenangkan Piala Citra untuk penghargaan film terbaik dan penulis skenario terbaik.

Salah satu film Arifin yang paling kontroversial adalah Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984). Film ini diwajibkan oleh pemerintah Orde Baru untuk diputar di semua stasiun televisi setiap tahun pada tanggal 30 September untuk memperingati insiden Gerakan 30 September pada tahun 1965. Peraturan ini kemudian dihapus pada tahun 1997.

Selain itu Arifin jugalah yang pertama mengenali bakat aktris Joice Erna dan mengangkatnya ke jenjang popularitas dengan film Suci Sang Primadona di tahun 1977.

Latar belakang teaternya yang kuat ia raih dengan pertama bergabung dengan kelompok bentukan Rendra dan juga kemudian menulis dan menyutradari lakon-lakonnya sendiri seperti Kapai Kapai, Tengul, Madekur dan Tarkeni, Umang-Umang dan Sandek Pemuda Pekerja.

Istrinya adalah aktris Jajang C. Noer.Darinya Arifin mendapat dua anak : Nitta Nazyra dan Marah Laut

Di antara delapan bersaudara, Arifin mengaku berparas paling jelek.
Anak kedua Mohammad Adnan, penjual sate keturunan kiai, ini
menggeluti kegiatan puisi dan teater sejak di SMP. Bersekolah di
Yogyakarta, ia bergabung dengan Lingkaran Drama Rendra, dan menjadi
anggota Himpunan Sastrawan Surakarta.
Sajak pertamanya, Langgar Purwodiningratan, mengenai masjid tempat ia
bertafakur. Naskahnya Lampu Neon, atau Nenek Tercinta, memenangkan
sayembara Teater Muslim, 1967. Ia kemudian bergabung dengan kelompok
teater tersebut.
Setahun kemudian, selesai kuliah di Fakultas Sosial Politik
Universitas Cokroaminoto, ia pindah ke Jakarta. ”Dengan keyakinan
ana awan ana pangan,” katanya. Ia lalu mendirikan Teater Kecil, dan
berhasil mementaskan cerita, dongeng, yang seperti bernyanyi. Tentang
orang-orang yang terempas, pencopet, pelacur, orang-orang kolong, dan
sebagainya. Mencuatkan protes sosial yang transendental, tetapi
kocak, dan religius.
Teaternya akrab dengan publik. Ia memasukkan unsur-unsur lenong,
stambul, boneka (marionet), wayang kulit maupun golek, dan melodi
pesisir. ”Arifin adalah pembela kaum miskin,” komentar Penyair
Taufiq Ismail, seusai pementasan Interogasi, 1984. Ia sendiri santai
berkata, ”Saya hidup di dunia kelam, dekat dengan kejelataan, dan
musik dangdut.”
Lakon-lakonnya antara lain: Kapai-Kapai (1970), Tengul (1973),
Madekur dan Tarkeni (1974), Umang-Umang (1976), dan Sandek Pemuda
Pekerja (1979). Lakon Kapai-Kapai dimainkan orang dalam bahasa
Inggris dan Belanda di AS, Belgia, dan Australia. Pada 1984, ia
menulis lakon Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi.
Lewat film Pemberang, ia dinyatakan sebagai penulis skenario terbaik
di Festival Film Asia 1972, dan mendapat piala The Golden Harvest.
Pada tahun itu, ”Peransi, pembuat film dokumenter, memperkenalkan
film sebagai media ekspresi kepada saya,” tuturnya. Arifin kembali
tampil sebagai penulis skenario terbaik untuk Rio Anakku, dan Melawan
Badai dalam Festival Film Indonesia 1978. Ia meraih Piala Citra.
Mengaku otodidak di bidang sinematografi, ia mulai menyentuh kamera
ketika Wim Umboh membuat film Kugapai Cintamu, 1976. ”Banyak
menyutradarai teater, ternyata, merupakan dasar yang sangat perlu
untuk film,” ceritanya.
Penulis skenario dan sutradara, Arifin sering disebut sebagai
sutradara termahal. Masih menghuni rumah kontrakan di Jalan Rawa
Raya, Pisangan, Jakarta Timur, kendaraannya Mitsubishi Lancer
berwarna putih. ”Kasihan terhadap diri saya sendiri,”
ujarnya. ”Orang sering menuding saya orang kaya.”
Film perdananya Suci Sang Primadona (1977), melahirkan pendatang
baru: Joice Erna, yang memenangkan Piala Citra sebagai Aktris Terbaik
FFI 1978. Film ini, menurut Volker Schloendorf — sutradara Die
Blechtrommel, pemenang Palme d’oro Festival Cannes 1979 — dari
Jerman, ”Menampilkan sosok wajah rakyat Indonesia tanpa bedak.
Arifin cermat mengamati tempatnya berpijak.”
Menyusul film-filmnya: Petualang-Petualang, Harmonikaku, dan Yuyun,
Pasien Rumah Sakit Jiwa, juga Matahari-Matahari. Belakangan, Serangan
Fajar dinilai FFI 1982 sebagai Film Terbaik. Sedang Pengkhianatan G-
30-S/PKI, filmnya terlaris yang dijuluki superinfra box-office. Lewat

film ini lagi-lagi Arifin meraih Piala Citra sebagai Penulis Skenario
Terbaik, 1985.
Dengan Nurul Aini, istrinya pertama, Arifin dikaruniai dua anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: